Membuat Teks Cerita Sejarah
dibuat untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia.
Nama: Novi Dian Safitri
Kelas: XII IPA 9
No. Absen: 27
Teks Cerita Sejarah
Berkah Suatu Mimpi
Pernahkah di benakmu
membayangkan seperti apa menjadi perempuan pada masa ku dalam kehidupan
sehari-harinya. Menjadi perempuan adalah sebuah kehormatan. Sikap sopan,
lembut, nan ayu harus diterapkan setiap harinya di dalam kehidupan. Perempuan
merupakan anugrah yang perlu dijaga. Maka di budaya kami perempuan sangatlah
dilindungi, terhindari dari ancaman luar. Itu kata mereka, yang ku rasakan
hanyalah aku tidak bisa menjadi diri ku sendiri. Aku tidak bisa bebas melakukan
apa yang ku mau. Menurutku, perempuan seperti halnya tawanan yang dikurung dari
dunia luar.
Saat diriku kecil aku
dipisahkan dengan ibu kandungku. Ibu adalah orang biasa dan tidak mempuyai
darah ningrat di tubuhnya. Aku tumbuh dan menyaksikannya menjadi orang terbuang
di rumahnya sendiri. Bahkan saat itu aku dipaksa memanggilnya dengan sebutan
“Yu” yang artinya pembantu. Kata ibu aku harus melakukannya agar ia bahagia. Hatiku
sangat hancur melihatnya diperlakukan seperti itu.
Tahun berlalu begitu
cepat, semenjak hari terakhir itu aku tidak bisa lagi tidur, bercengkrama dan
bersosialisasi dengan ibuku layaknya ibu dan anak. Aku dipisahkan dengan ibuku
secara paksa, tanpa belas kasihan sedikitpun.
Masa kecilku hanya
dihabiskan di rumah, di kamar, belajar tata cara menjadi perempuan ningrat yang
anggun untuk dipersunting kelak ketika sudah memasuki waktunya. Bosan. Tiada
hari tanpa tak bosan. Di kamar mengurung diri tanpa teman.
Sampai suatu hari saat
aku beranjak dewasa. Waktuku telah tiba. Sudah diwajibkan untukku menjadi
perempuan ningrat. Aku mulai belajar tata cara berjalan dengan anggun dan sopan.
Aku mulai melanjutkan tradisi yang sudah dari dahulu lamanya dijalankan. Aku
melakukan semua itu bersama dengan kakak tiriku, Soelastri.
Aku biasa memanggilnya
dengan sebutan “Mbak” yang mana di budaya daerahku artinya kakak. Mbak berkata,
bagian perempuan yang paling berharga terdapat di tubuh. Tubuh perempuan yang
kita miliki perlu dijaga. Untuk itu, sudah sebuah keharusan untuk perempuan
merawat tubuhnya dengan baik. Agar saat dipersunting nanti, suami tidak kecewa.
Aku tidak peduli sebenarnya. Aku cukup mengikuti semua hal yang dilakukan
Mbakku. Seperti luluran dan lainnya.
Suatu hari Mbak dipersunting
oleh seorang bupati. Pernikahan itu tanpa didasari oleh cinta. Mereka
dijodohkan oleh orang tua kami dan itu sudah merupakan tradisi turun temurun. Namun,
aku pikir tidak seharusnya pernikahan dilaksanakan tanpa dengan orang yang dicintai.
Itu merupakan paksaan sehingga membuatku tidak mau menikah.
Setelah menikah Mbak meninggalkan
rumah dan ia tinggal di rumah suaminya. Aku pun menjadi sendiri di kamar. Sangat
bosan tidak melakukan kegiatan apapun. Aku hanya punya Mbak dan Mas sebagai
temanku. Sementara adik-adikku karena mereka masih kecil dan belum memasuki
masa menstruasi, mereka masih diperbolehkan bermain di luar.
Sampai suatu hari Masku
pulang, Mas Sosrokartono. Aku sangat senang dan menghampiri dia. Masku ini
satu-satunya yang paling dekat dengan aku dibanding dengan saudara laki-laki
yang lain. Ia sangat peduli denganku. Ia biasa memanggilku dengan sebutan
‘Trinil’, salah satu panggilan akrab untukku di keluarga.
Ternyata saat itu Mas
ingin menyampaikan salam perpisahan sebelum ia pergi jauh. Mas Sosrokartono
berencana pergi ke Netherland, negeri orang Londo. Demi mencapai pendidikan
yang lebih tinggi ia rela untuk meninggalkan rumah. Sebenarnya aku iri dengan
Mas. Perempuan dalam tradisi daerahku tidak boleh mendapatkan pendidikan
seperti halnya Masku. Kita perempuan tidak boleh melebihi derajat laki-laki.
“Bosan?” ucap Mas saat
melihat senyumku menurun.
“Setiap hari, Mas”
jawabku dengan malas dan memainkan asal gamelan yang ada di dekatku ini.
Mas Sosrokartono terlihat
mengeluarkan sebuah barang dari saku bajunya. Ternyata itu sebuah kunci. Lalu
ia memberikannya kepadaku.
“Ini adalah hadiah untuk
kamu, untuk melarikan diri dari pengasinganmu. Di kamar Mas ada lemari yang terkunci.
Coba kesana dan lihat apa yang ada di dalam.” Ucap Mas. Aku termenung
sementara, memangnya apa yang ada di dalam lemari tersebut?
“Tapi, Mas.”
“Jangan biarkan pikiranmu
terkurung. Aku akan menunggu kamu di Netherland.” Jawabnya lalu berlalu
meninggalkan aku sendiri di pendopo.
Malamnya saat keadaan
rumah sepi saat yang lain sudah terlelap dalam tidur. Aku melangkahkan kakiku
menuju kamar Mas Sosrokartono. Mataku melihat sekeliling memastikan tidak ada
orang yang melihatku. Ketika sampai di kamar Masku, aku mengeluarkan kunci yang
diberikannya dari balik bajuku.
Lemari kayu yang tercorak
indah berada di hadapanku sekarang. Aku membuka kenop lemari tersebut. Mataku
membulat besar dan senyumku terukir lebar saat lemari tersebut terbuka. Di
dalamnya terdapat banyak buku yang aku yakin ini semua adalah buku-buku milik
Masku yang mengantarkannya hingga ke negeri orang.
Aku mengambil satu buku
yang pertama kali menarik perhatianku. Buku itu berjudul ‘Hilda Van Schuylenbergh’
yang ditulis oleh salah satu perempuan Belanda bernama Cecile Goekoop-de Jong.
Buku itu menuliskan sebuah cerita seorang perempuan Belanda bernama Hilda Van
Schuylenbergh. Dia adalah seorang pengacara dan aktivis untuk kaum miskin dan
hak-hak perempuan. Dia sangat cerdas. Dia pasti memiliki pendidikan tinggi. Dan
yang membuatku terkejut adalah dia juga seorang istri dan ibu dari satu anak
perempuan.
Aku ingin menjadi seperti
karakter fiksi di novel Cecile de Jong. Dan mulai saat itu aku bertekad untuk
mendapatkan pendidikan yang aku mau. Aku sering berkunjung dan menghabiskan
waktu ke kamar Masku untuk membaca buku.
Aku sangat berterima
kasih kepada Mas Sosrokartono yang sedang berada di Belanda. Terima kasih atas
hadiah yang sangat berharga. Mas Sosrokartono benar, tidak ada yang lebih
berharga selain membebaskan pikiran. Tubuh boleh terpasung, tapi jiwa dan
pikiran harus terbang sebebas-bebasnya. Sekali jiwa diserahkan, selamanya tak
akan pernah kita miliki kembali. Aku tidak akan serahkan jiwa ini kepada siapapun.
Itu akan menjadi saksiku atas semua rasa sakit dan kebahagiaanku di masa depan.
Sebulan setelahnya aku
mendapatkan surat balasan dari Masku yang sebelumnya saat itu aku kirim
kepadanya.
“Kepada
adikku tersayang, Trinil.
Tidak
ada yang lebih membahagiakan selain mendengar kabar baik dari kamu. Dan aku
senang kamu mendapatkan kebebasan kamu. Aku tidak akan memberikan jika kamu
tidak bertanya.
Trinil,
apa yang kamu miliki sekarang tidak akan ada artinya jika kamu simpan pada diri
kamu sendiri. Kamu harus berbagi kepada yang lain. Perubahan tidak bisa terjadi
dengan sendirinya.”
Aku tersenyum hangat
melihat isi surat tersebut. Mas Sosrokartono adalah orang yang paling mengerti
diriku. Aku akan melakukan semua yang Mas katakan kepadaku.
Di suatu pagi hari ketika
aku sedang termenung terduduk di penyangga jendela sambil memakan kacang mede,
suara ketukan pintu kamar membuat perhatianku teralih. Ibu yang membukanya
ternyata. Dengan dua adikku di belakangnya terduduk sambil menundukkan kepala.
Ibu menyuruh mereka untuk tinggal bersama di dalam kamar ini. Ya, bersamaku.
Aku sangat senang. Setelah lama sendiri di kamar ini, akhirnya sekarang ada
orang yang bisa aku ajak bicara di kamar lagi.
Dua adikku ini bernama
Roekmini dan Kardinah. Mereka sudah memasukki waktunya, sehingga mereka berdua
menjadi satu kamar denganku sekaligus memberi pengajaran tradisi yang Mbak
Soelastri ajarkan kepadaku.
Setelah mereka berdua
masuk ke dalam kamar, ibu menutup pintunya kembali. Mereka berdua melihat
takut-takut ke arahku. Aku yang melihat itu segera bersikap layaknya penguasa
di dalam kamar ini. Berhubung Mbak Soelastri sudah tidak tinggal di sini, maka
sekarang aku yang menjadi kakak mereka dan menunjukkan semua hal yang
seharusnya wanita ningrat lakukan selama masa ‘kurungan’ sebelum dipersunting
kelak.
Aku berdiri di hadapan
dua adikku ini. Mereka berdua aku perintahkan untuk berjalan jongkok dari pintu
ujung sampai jendela ujung sebanyak yang aku mau. Layaknya penguasa, aku
megangkat daguku tinggi dan melipatkan tanganku di bawah dada.
“Sejak semua kangmas dan
mbakyu sudah menikah. Kalian ngerti kan harus nurut siapa. Dan siapa yang akan
menjadi kakak tertua kalian.” Ucapku sambil berjalan mondar-mandir. Menatap
mereka dengan tatapan angkuh.
“Iya, Mbak” itu lah
jawaban mereka dengan masih melakukan apa yang aku perintah.
“Nah, maka dari itu
kalian harus menuruti semua perkataanku. Jika kalian menolak, akan aku adukan
kalian kepada ibu. Aku yang paling penguasa disini. Kalian paham?” lanjutku
lagi dengan sedikit aku tinggikan nada bicaraku.
“P-paham, Mbak.” Jawab
mereka lagi dengan terbata-bata.
“Ya sudah lanjutkan jalan
jongkoknya.”
Aku terduduk di kasur dan
melanjutkan memakan kacang medeku lagi yang tadi sempat terhenti. Melihat dua
adikku yang sedang terbebani, aku menahan tawaku.
“Mbakyu kita capek.” Ucap
Roekmini.
Aku terbangun dari
dudukku dan menghampiri mereka.
“Apa katamu? Capek? Nah,
itu. Kalian merasa capek sepanjang waktu. Menjadi Raden Ayu itu kalian harus
melayani seorang pria yang tidak dipilih hatimu sendiri.”
“Apa tidak ada pilihan
yang lain, mbakyu?” Tanya Kardinah.
“Sayangnya tidak.”
Jawabku.
“Namun kita bisa mencoba
menjadi Raden Ayu yang berbeda.” Lanjutku dan mendekati mereka.
Kardinah dan Roekmini
menatapku yang berada di belakang mereka.
“Sudah-sudah kalian
berdiri.” Perintahku kepada dua adikku ini yang terlihat sedikit berkeringat
karena tindakan jahilku.
“Lihat ke depan. Ayo
lihat ke depan pintu.”
Mereka berdua menuruti
perkataanku.
“Pintu ini adalah perbatasan
antara kita dan seluruh dunia. Kamar ini adalah satu-satunya tempat di Japara
di mana kami bisa menjadi diri sendiri. Kamu bisa tertawa sekeras yang kamu
mau. Tunjukkan senyummu semampumu. Nih, contohnya aku. HAHAHAHA” jawabku dan
tertawa di akhirnya dengan suara yang sangat lantang. Mereka terkejut.
“Nah coba kalian ayo
tertawa.”
“Tidak mau, mbakyu.”
“Jangan panggil aku
mbakyu. Kalian tidak perlu bersikap sopan. Kalian tidak perlu menggunakan
bahasa yang tepat untuk aku. Panggil aku kartini saja.”
“Trinil?” jawab Kardinah
dan kita semua tertawa terbahak-bahak.
Ini adalah saatnya
untukku mewujudkan yang Mas Sosrokartono harapkan. Aku mengambil beberapa buku
dari lemariku dan aku berikan kepada mereka untuk dibaca. Kedua adikku terlihat
senang.
Kemudian, kami pun
menjalankan kehidupan sehari-hari kami seperti biasa. Namun, waktu kami
bertambah dengan membaca buku. Buku-buku itu sangat bagus. Sangat memberikan
manfaat. Banyak sekali pengetahuan yang sebelumnya kami tidak ketahui.
Saat aku dengan kedua
adikku tengah membantu pembantu yang sedang memasak, Yu yang tengah mengulek
sambal berkata kepadaku bahwa seorang wanita yang pandai memasak, suami akan
senang tinggal di rumah.
Aku pun menimpalinya,
“Kalau Trinil masak, ya untuk diri sendiri dan orang-orang yang dicintai.”
Yu mengatakan kepadaku
lagi bahwa ketika aku memiliki suami, ia yakin aku akan mencintainya. Namun aku
menyangkalnya sebab jika pelamar masih lajang, belum pernah menikah sebelumnya
dan mendukung impian aku. Pasti aku akan mencintainya.
Lalu datanglah seorang pembantu
lagi yang mengabarkan bahwa Raden Mas, ayahku, kedatangan tamu. Mereka adalah
orang-orang Londo. Salah satu dari mereka adalah kepala sekolah dari sekolahku
dulu, Tuan Baron Van Dietmar. Pada saat umurku 12 tahun aku diperbolehkan
bersekolah di sekolah khusus orang Belanda dan kalangan bangsawan untuk
mendapatkan pendidikan bahasa Belanda.
Aku menguping pembicaraan
mereka. Tidak sopan, tapi aku sangat penasaran. Mereka berbincang tentang
anak-anak mereka yang mendapatkan pendidikan tinggi sampai ke luar negri. Tuan Ovink-Soer
pun bertanya sebaliknya ke ayahku. Ia menanyakan tentangku kemana aku
melanjutkan sekolah. Ayahku menjawab bahwa aku masih dalam masa ‘pingitan’.
“Anda mengurung
putri-putri Anda di rumah?” salah satu dari mereka bertanya tentang tradisi
daerahku. Ayahku diam tidak menjawab pertanyaan Tuan Hans. Lalu aku
berinisiatif untuk menghampiri mereka dengan membawakan minuman yang seharusnya
dibawakan pembantu.
“Ayah saya tidak benar-benar
mengunci kami di rumah. Kita masih bisa menikmati bermain dan membaca. Saya
bisa mendapatkan pendidikan lebih. Saya mau untuk bersekolah.” Ucapku yang
sudah berada di hadapan mereka.
“Kartini adalah murid
yang sangat pintar. Saat usianya 13 tahun, ia menulis essay tentang Pandita
Ramabai.” Ucap Sang kepala sekolah.
“Kartini, kamu bisa membuat artikel sendiri
jika kamu mau. Dan nanti artikel yang kamu buat bisa saya serahkan ke pusat
kota. Nantinya jika artikelmu mendapatkan apresiasi yang sangat banyak,
artikelmu bisa dikirimkan ke Netherland.” Ucap Nyonya Ovink Soer. Aku sangat
bahagia mendengar itu. Aku mau melakukan apa yang ia katakan. Kedua adikku juga
mengetahui tentang ini. Mereka pun juga turut senang.
Beberapa minggu kemudian,
aku telah selesai membuat artikel. Artikel yang kubuat berisi tentang
wanita-wanita yang tidak bisa bersekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak.
Setelah mengirimkannya, ternyata Nyonya Ovink Soer sangat senang melihat
artikel buatanku. Ia mengajakku untuk ke Kota Semarang untuk ke sebuah acara.
Ia berniat untuk memperkenalkan ku dengan bangsawan lain pribumi maupun londo
di acara tersebut. Sebelum aku menyetujuinya, aku meminta izin kepada ayah dan
ia mengizinkanku untuk ikut bersamanya.
Di acara tersebut aku
dengan kedua adikku sangat diapresiasi oleh orang-orang Belanda. Melainkan orang-orang
dari bangsaku malah mencemooh aku dengan kedua adikku. Mereka bilang bahwa ayah
tidak menjagaku dengan baik. Mereka juga bilang tidak akan ada yang mau
mempersunting aku dengan kedua adikku kelak. Andai saja aku bisa balas mereka,
aku akan bilang bahwa aku tidak mau menikah dengan orang yang suka merendahkan
orang lain. Setelah aku menemui Tuan Sitjhoff, ia sangat mengapresiasikan
artikelku dan memintaku untuk membuat artikel lagi yang nantinya akan
dikirimkan ke Belanda.
Sejak saat itu aku giat
mencari inspirasi. Kedua adikku juga turut membantuku. Mereka tidak berhenti
membaca buku dan mencari-cari pengetahuan baru. Suatu hari kita tengah
berbincang-bincang di atas pohon. Mengobroli tentang pernikahan yang seharusnya
kita alami nanti.
“Aku sama sekali tidak
butuh laki-laki. Aku bisa mencari pekerjaan sendiri. Perempuan juga bisa
melakukan semua yang laki-laki lakukan.” Ucapku sambil memakan kacang mede.
Menikmati rasa gurih dari cemilan favoritku.
“Aku juga. Aku tidak mau
menikah.” Timpal Kardinah.
Kita semua pun menyatukan
tangan kita bersama. Bersorak ria dan tertawa dengan lantang. Untungnya tempat
ini jarang dikunjungi orang rumah. Selain kamar, tempat ini juga merupakan
tempat yang aman untuk kita.
Artikel yang beberapa
hari lalu ku selesaikan, sekarang aku ingin mengirimkannya ke Nyonya Ovink Soer
yang nantinya akan diantarkan ke Belanda. Butuh waktu seminggu untuk aku
menyelesaikan artikel itu. Aku tulis dengan sangat terperinci dan hati-hati.
Aku hanya punya kesempatan ini saja untuk meraih mimpiku. Maka akan aku lakukan
dengan semaksimal mungkin.
Sebelum aku
mengirimkannya ke Nyonya Ovink Soer, ternyata Mas Slamet datang ke rumah. Ia
mengetahui bahwa aku mulai melanggar adat. Ia mengadukan perbuatanku kepada
Ayah dan Ibu. Ia juga berkata bahwa aku harus segera dinikahkan dengan seorang
laki-laki. Ia memaksaku untuk tetap tinggal di rumah tidak memperbolehkan aku
dengan kedua adikku keluar dari pekarangan rumah. Aku pun harus memutarkan
otak, bagaimana caranya aku bisa mengirimkan artikel ini tanpa sepengetahuan
Mas Slamet. Lalu aku memanggil keponakan laki-lakiku. Aku suruh ia membawakan
makanan yang aku buat untuk Nyonya Ovink Soer. Dan aku juga menyelipkan sebuah
kertas kosong di bajunya untuk menjebak Masku. Artikel yang kubuat tidak kukirimkan
sekarang. Melainkan aku menunggu Nyonya Ovink Soer datang ke rumahku. Setelah
aku kirimkan sebuah pesan dengan cara menaruh sepucuk kertas yang kutaruh di
makanan yang aku buatkan untuknya. Pesan itu berisi bahwa aku sedang dikurung
karena kakakku.
Ternyata caraku berhasil.
Kebesokannya Nyonya Ovink Soer datang ke rumahku. Ia sekali lagi meminta izin
kepada ayah dan ibu juga dihadapan masku untuk memberikan aku sedikit
kebebasan. Setidaknya untuk mengirimkan artikel buatanku. Setelahnya, mereka
memutuskan untuk menjawab pertanyaan itu besok. Kemudian Nyonya Ovink Soer pulang.
Ibu dan mas bersih keras untuk tidak menyetujui itu. Malam harinya aku menemui
ayahku untuk meminta izin. Aku benar-benar ingin mengirimkan artikelku.
Kebesokannya ayahku
menyetujui itu. Ia berkata bahwa perubahan akan datang. Ia percaya itu. Ayah
sangat mendukung sikapku ini. Ia ingin putri-putrinya mendapatkan pendidikan
tidak hanya anak laki-lakinya saja. Ibu dan mas terlihat tidak senang. Namun
senyumku tak bisa kusembunyikan lagi. Aku sangat berterima kasih kepada ayah. Kemudian
artikel yang kubuat itu akhirnya bisa dikirimkan.
Namun, Mas Slamet tidak
berdiam diri saja melihatku. Ia kemudian merencanakan cara untukku agar tidak
mewujudkan mimpiku. Ia bersama ibu, untuk menghentikanku. Suatu hari saat aku
dengan kedua adikku tengah bermain permainan tradisional, seorang pembantu
rumah mehampiriku. Ia memberikan sebuah kabar bahwa aku diperintahkan untuk
menemui orang tuaku. Entah ini perasaanku tiba-tiba menjadi tidak enak. Untuk
apa mereka memanggilku? Aku buang jauh-jauh pikiran negatif itu. Aku
meninggalkan kedua adikku dan pergi ke ruang tengah.
“Ada apa memanggil saya?”
ucapku saat sudah berada di hadapan ayah dan ibu, juga terdapat Mas Slamet di
sana. Perasaanku menjadi tidak enak sekali.
“Maafkan ayah, Kartini.”
Ucap ayah dan membuatku bingung.
“Kartini, ada lamaran
dari bupati rembang. Itu adalah berkah.” Ucap ibu sontak membuatku terkejut.
“Apa yang harus aku
syukuri? Dari seorang pria yang sudah memiliki tiga istri.” Jawabku.
“Kamu beruntung dia
bupati, bukan petani. Lamaran pernikahanmu ini harus dijawab dalam tiga hari. Kamu
harus..”
“Saya tidak mau
mengecewakan ayah. Permisi.” Ucapku yang memotong ucapan ibu lalu bergegas
meninggalkan mereka.
Benar saja. Apa yang aku
pikirkan benar terjadi. Mereka akan melakukan segala cara untuk memberhentikan
langkahku. Aku menangis di kamar dengan kedua adikku yang telah memelukku.
Memberi dukungan agar aku bisa sabar menghadapi ini.
Saudara-saudara ayah
sangat mendukung ibu dan Mas Slamet untuk menikahkanku dengan bupati Rembang
ketika mereka tahu tindakan aku selama ini. Mereka sangat marah kepada ayah
yang mendukung putri-putrinya. Mereka bilang bahwa putri-putri ayah telah
merusak tradisi dan berlindung di bawah tangan Belanda yang terus mengejek
nenek moyang kita. Mereka bilang jika ayah membiarkan putri-putrinya segera
mendapatkan pendidikan, mereka akan meminta untuk menjadi bupati, ini akan
diikuti oleh para petani. Di masa depan akan terjadi. Ketika seorang putri
tukang kayu ingin menjadi ratu, itu akan menjadi berantakan.
Situasi sekarang ini
makin kacau saat ayahku terjatuh sakit. Ibu sangat marah karena ia menganggap
bahwa semuanya salahku. Ia memaksa untuk memisahkanku dengan kedua adikku. Kita
tidak lagi sekamar. Dan aku terkurung di kamar ini. Aku tak bisa keluar karena
semua celah untuk keluar dari kamar telah ditutup sangat ketat. Aku harus tetap
tinggal di kamar ini untuk 3 hari ke depan. Menunggu bupati Rembang melamarku
kembali.
Aku menangisi nasibku di
kamar sendiri bagaikan tahanan di penjara. Tiba-tiba Yu membuka jendela yang
tadinya tertutup sangat ketat dengan bebarapa papan kayu yang menguncinya. Yu
menyuruhku untuk keluar. Ia berkata bahwa tidak ada orang di rumah kecuali para
pembantu. Ini adalah kesempatan untukku. Aku memutuskan untuk meninggalkan
rumah walau Yu sudah melarangku.
“Yu, aku tidak mau
dinikahkan dengan laki-laki yang tidak kucintai.”
“Raden Ayu tidak boleh
meninggalkan rumah. Nanti orang rumah semua cemas.”
“Aku akan kembali lagi.
Aku hanya perlu menenangkan diri, Yu. Percaya aku.”
Kemudian aku memeluk Yu,
“Percaya Kartini, Bu.”
Aku memanggilnya dengan
ibu. Setelah sekian lamanya aku bisa memanggilnya seperti itu lagi. Lalu aku
bergegas pergi ke gerbang dan meninggalkan rumah. Berjalan tanpa arah dengan
air mata mengalir di wajahku. Kakiku melangkahkan diri ini menuju ke arah
hutan. Entah mengapa aku ingin sekali menghirup udara segar.
Aku terduduk di pinggir
sungai menikmati pemandangan di hadapanku ini. Langit sangat cerah seakan
memberikan hiburan untukku. Suara air sungai yang mengalir memberikan
ketenangan ditambah dengan kicauan burung yang merdu sangat damai. Ini suasana
yang aku cari. Kedamaian untuk hidupku.
Terdengar suara yang agak
berisik dari belakangku mengalihkan perhatianku. Aku menoleh ke belakang dan
terlihat seorang anak perempuan yang tengah mengambil ranting-ranting pohon
yang berada di tanah. Aku memanggil anak itu dan ia pun menoleh. Sontak ia
terkejut dan menundukan kepalanya.
“Hey, tidak apa-apa. Sini
kemari.” Ucapku menyuruh anak iu mendekatiku. Lalu ia berjalan ke arahku dengan
kepala yang masih tertunduk.
“R-raden Ayu Kartini?”
ucapnya terbata-bata. Aku menarik tangannya lembut dan menuntunnya untuk duduk
di sampingku.
“Tak usah memanggilku
seperti itu. Panggil aku mbak saja.” Jawabku lalu ia mengangguk.
“Kamu sedang apa? Mencari
kayu bakar?” ucapku dan ia hanya mengangguk lagi.
“Coba katakan kepadaku,
apa kegiatan sehari-hari kamu?” tanyaku kepadanya. Ia mengangkat kepalanya dan
matanya mulai berani menatapku.
“Keseharianku hanya
membantu orang tua, kadang mencari kayu bakar, memasak, dan bermain. Hanya itu
saja.” Jawabnya.
“Kamu merasa sangat
bosan?” tanyaku lagi dan ia mengangguk.
“Aku sering berkhayal
menjadi wanita yang pintar. Berpendidikan seperti orang Londo. Aku sering
melihat mereka membaca buku, bersekolah, berpidato di depan banyak orang,
bahkan ada yang bekerja seperti laki-laki. Aku ingin seperti mereka. Tapi aku
sadar aku tidak akan pernah menjadi mereka. Tidak akan pernah.” Jawabnya dan
membuatku terheran. Ia sama sepertiku.
“Dimana kamu melihat
mereka seperti itu?” tanyaku.
“Ibu adalah seorang
pembantu di sebuah keluarga Belanda yang sangat baik. Aku sering membantunya di
rumah keluarga itu. Mbak kenapa ada di sini?”
“Kau tahu, bahwa seorang
wanita di kalangan bangsawan itu sangat dijaga bukan? Yang aku rasakan seperti
halnya tahanan penjara. Kita dinikahi secara paksa. Kita tidak bisa menjadi
diri kita sendiri. Kita tidak bisa membebaskan pikiran kita. Aku juga sepertimu
ingin mendapatkan pendidikan sebagaimana laki-laki dapatkan. Tapi sayangnya
mereka melarangku. Mereka bilang bahwa aku tidak bisa menjaga martabat
keluarga.” Ucapku panjang lebar. Anak itu menaruh tangannya di tanganku dan
menatap lekat mataku.
“Mbak pasti bisa. Mbak
pasti bisa memperjuangkan hak wanita bahwa wanita juga berhak mendapatkan
pendidikan. Bagaimana kalau mbak membuka sekolah kecil? Maksudku pasti mbak
mendapatkan banyak dukungan.”
Entah mengapa ucapan anak
itu membuatku kembali bersemangat. Perkataannya sangat bijak dan dewasa. Aku
tahu aku melanggar budaya. Tetapi budaya seperti ini tidak seharusnya
diteruskan lagi sampai ke zaman berikutnya. Hanya karena aku seorang wanita.
Setelahnya aku berpamitan dengan anak itu dan tak lupa untuk berterima kasih
kepadanya yang membuatku kembali meneruskan hidup. Aku kembali ke rumah dan
masih ada Yu di dapur. Aku memeluknya kembali dan bilang kepadanya bahwa aku
tidak akan menyerah.
Kebesokannya saat bupati
Rembang datang ke rumah untuk melamarku. Kami semua sudah berada di ruang
tengah.
“Saya menerima lamaran
pernikahan bupati Rembang. Namun saya memiliki persyaratan saya.” Ucapku. Ibu
terlihat tidak suka.
“Apa lagi?” ucap ibu.
“Sudahlah, teruskan
anakku.” Ucap ayah menghentikkan amarah ibu.
“Pertama saya tidak mau
membasuhi kakinya. Kedua saya tidak ingin mengikuti aturan tata cara yang rumit
sebagai istri bupati. Saya ingin diperlakukan sebagai orang biasa saja.
Ketiga..” ucapku terpotong oleh amarah ibu yang telah memuncak.
“Cukup!! Kamu hanya
memikirkan dirimu sendiri. Ibu tidak akan membiarkan semua persyaratan kamu
terpenuhi.”
Tiba-tiba pintu rumah
terbuka, Mbak Soelastri datang dengan keadaan yang sangat kacau. Ia menangis
sambil menggendong anaknya.
“Dia benar, ibu. Suami
saya menikah lagi, bu. Saya mengerti Mas Cokro lebih mencintai istrinya yang
lebih pintar, perempuan yang lebih terpelajar. Saya tidak tahan lagi. Kartini
benar. Tolong Kartini lanjutkan. Mbakyu sangat mendukung kamu.” Ucap Mbak
Soelastri dan membuat keheningan di tempat ini.
“Syarat ketiga adalah saya
mengharuskan calon suami saya untuk membantu saya membangun sekolah untuk
wanita dan orang miskin. Dan yang terakhir saya ingin ibu saya Yu Ngasirah
pindah ke rumah utama bersama kita semua dan saya ingin kita semua memanggilnya
sebagai ibu bukan Yu lagi.”
Setelah memberikan semua
persyaratan dariku, bupati Rembang yang mana calon suamiku nanti sangat tidak
keberatan dengan persyaratan itu.
“Kekhawatiran kartini
menurut saya lucu, tapi itu normal. Itu karena dia belum mengenalku. Alasan
kunjungan saya untuk mengklarifikasi hal-hal penting. Istriku mengagumimu. Dia
selalu ingin mengajak anak-anak bertemu denganmu. Tapi dia sakit dan meninggal
terlalu cepat. Sebelum dia meninggal harapan kematiannya adalah dia ingin
anak-anak dibesarkan oleh seorang ibu yang cerdas dan berani sepertimu. Saya
bersedia menerima persyaratanmu. Saya akan membantu untuk membangun impianmu.”
Mendengar pernyataannya
membuat hatiku senang dan sekaligus sedih. Aku senang bahwa ia menerima
persyaratanku dan sangat mendukung impianku. Namun, aku sedih karena belum
sangat siap untuk menikah dan meninggalkan rumah, meninggalkan orang-orang yang
aku sayangi tertuma Ibu Ngasirah.
Di pagi hari aku sudah
didandani dengan apik dan dipakaikan baju kebaya pengantin yang mewah. Setelah
semuanya selesai, aku keluar dari kamar ditemani ibu dan ayah. Suara gamelan
yang dimainkan menjadi pengiring saat aku berjalan menghampiri calon suamiku.
Di aula depan rumah, ramai orang melihat prosesi pernikahanku.
Setelah seminggu aku
menjadi seorang istri, aku mulai mendirikan sekolah perempuan di Rembang atas
dukungan suamiku. Antusias para perempuan untuk belajar dan mengenal huruf
menjadi penyemangatku sekarang. Aku senang cita-citaku bisa tercapai, walaupun
dengan cara yang tidak aku inginkan. Tetapi memang inilah takdirku. Suamiku
juga mendukungku dengan baik. Para perempuan yang aku ajarkan, mereka pantas
mendapatkan pendidikan. Mereka pantas. Karena sejatinya laki-laki dan perempuan
memiliki hak yang sama di mata Tuhan. Begitupun seharusnya di mata hukum.
Selesai.
omgggg bagus banget, seru baca ceritanya!
BalasHapusKeren, pemilihan tokoh, cerita, dan alur sangat menarik. Sudah menggunakan kata yang sesuai dengan kaidah kebahasaan.
BalasHapusPemilihan tokoh, kosa kata sangat bagus! Dan alurnya juga sangat menarik!
BalasHapuskereennn, kosakatanya bagusss
BalasHapusceritanya sangat bagus! alur yang disajikan menarik banget, pesan-pesan dari ceritanya juga bisa langsung dirasakan. keren deh!
BalasHapusflow ceritanya dapet banget, suka!
BalasHapusPenggunaan bahasa yang ringan, dan pembawaan karakter tokoh yang baik, keren!
BalasHapusceritanya baguss, suka sama alurnya!
BalasHapus